Powered By Blogger

Selasa, 21 Juni 2011

yang terlupakan


Biarlah malam menyelimuti hatimu yang sedih
Biarlah bintang menemani dirimu yang sendiri
Biarlah ku menghiburmu
meski ku juga mengalami

Sekali-kali aku bukanlah pujangga
aku hanya insan yang dirundung rasa cinta
cinta menggila
seakan-akan hancur saja relung ini

Kesedihan berujung kesudahan
kesudahan berujung kesadahan
kesadahan berujung keseduan
keseduan berujung kesenduan

lewati hari
meski tak kunanti
lewati masa
meski tak kurasa

lewati sepi
meski tak kucari
lewati cinta
meski tak kucipta

lewati hati
meski tak kudapati
lewati asa
meski tak kurasa

kesunyian

lemparkan kesunyian
tangkap kesepian
sama saja nian
berbeda sekian

...meski terucap
seribu kata
tak menancap
pun sekata

lewati hari
dengan kata rindu
lewati hati
dengan hanya sendu

****

 
imajinasi
intuisi
ilusi
berkolaborasi

...jadi puisi
jadi sunyi
jadi sepi
jadi janji

dalam serambi
dalam hati
menyatu kiri
sebelahnya lagi

Rabu, 15 Juni 2011

KASMARAN

Lembut tatapan mu meluluhkan ketakutan ku
Naluri mencintai berlari menghampiri hati
Merayu untuk kembali.....
Memaksa cinta berdiri dari keterpurukan hati

Kasih putih....
Menghampar luas dihadapan
Mengisyaratkan dua hati saling bertaut kasih
Mendekat dan mendekap ingin menyatukan menjadi segumpal keindahan

Halusnya jari jemari cinta mu
Membelai indah hati yang luka
Sedikit demi sedikit menghapus cerita lama
Memulai cerita dengan keikhlasan cinta

Alunan jeritan sayang merdu terdengar
Mengalir mengikuti alur takdir
Berniat untuk mengakhiri kemuara Cinta
Menenggelamkanya sambil berpelukan

Kamis, 09 Juni 2011

hilangnya sinar indah ku

Aku pernah kehilangan kepercayaan diriku.
Kepercayaan bahwa diriku adalah seorang manusia.
Yang seharusnya lebih kuat.
Yang seharusnya lebih baik.
Daripada seekor binatang..
Dalam gelapnya kekalutan hatiku ini.
Ku melihat secercah sinar terang.
Yang menghampiriku.
Dan membantuku berdiri.
Hingga akhirnya aku bangkit.
Dari segala kegelisahanku tersebut..
Sinar itu sangat indah.
Sangat terang dan berkilauan.
Ia menuntunku keluar dari kegelapan.
Dan membimbingku erat menuju dunia yang cerah.
Dimana dalam dunia itu kutemukan lebih banyak sinar lagi.
Yang menyambutku hangat.
Dan mengajariku arti hidup yang sesungguhnya..
Ada satu sinar indah.
Yang selalu setia mendampingiku.
Membantuku bangkit dari masalah.
Dan mengajariku arti kedewasaan.
Tak pernah kucoba mengkhianatinya.
Begitupun sebaliknya.
Tak pernah pula sedetikpun ia mendustaiku…
Namun kini.
Aku gelisah.
Tak pernah kulihat sinar itu kembali.
Untuk mendampingiku mengajari arti kedewasaan..
Wahai dewi cinta..
Kembalikan ia padaku.
Mengapa ia pergi tinggalkanku.
Tanpa sepatah katapun…
Dewi cinta..
Bantu aku mengingatkannya.
Jikalau dulu dalam suatu masa.
Pernah adanya janji.
Dimana aku dan dia.
Akan selalu setia menghibur.
Akan selalu setia menemani.
Sampai tibanya waktuku nanti…

Rabu, 08 Juni 2011

Saat kata terucap dengan manis
Mengapa tak hanya diam
Kau semakin menghancurkan ku
Walau ku tak mengerti maksud hatimu

Hati??
Mengapa s’lalu menyebut hati
Perasaan??
Tak adakah kata lain

Kau bilang kan menjaga Perasaan ku
Tapi kini kau menyakitiku
Kau hancurkan hatiku
Perasaanku

Tak sadarkah kau
Dimana hatimu?
Kata-katamu manis
Semanis lidahmu mengucap

Tapi telingaku sakit saat mendengarnya
Bagai tersambar petir
Begitu teganya dirimu
terhadap cinta suciku……………………………………..
termenung ku dalam indahnya dunia
aku tak bisa lagi merasakan
sejuknya udahra segar
hijaunya pepohonan

waktu demi waktu
serasa tak menentu
seandainya dapat ku putar waktu
ku takan bisa mengungkapkan sesuatu

satu demi satu pepohonan tumbang!
satu demi satu bencana datang!
meninju congkaknya manusia
merusak lingkungan demi rupiah

burung-burung kini
terikat asap pabrik
ikan-ikan kini
bermandi gulana limbah

hutan...
harus kita budayakan
atau mimpi damai
tak akan tersampai

termenung dalam gerak
dihempas sang angin
membuat gerak tangan ini
untuk sebuah puisi

Selasa, 07 Juni 2011

gadis pemimpi

pagi ini kutulis
menulis surat
tetapi entah surat yang keberapa
ke persembahkan hanya untuk ibu ku

surat ku hanya memakai kertas biasa
hanya sobekan dari buku tilisku ini
ditindas hitam tinta bolpoin murahan ini
tanpa amplop hanya bermotif garis biru saja

melaui surat-suratku
aku gambarkan sosokmu seperti peri
muncul dari kepundan putih
diatasnya berdiri makhota bertatahkan serpih berlian

aku hanya bisa melihat sekilas wajahmu
berkelebat di badan gunung
juga di kawah dengan kepulan asap
atau di kabut yang melingkupinya

BUMI TUA

apa kau rasa bumi sudah tua
tak kan mampu menompang hidup kita
apa kau tau tuhan sudah muak
terhadap kita yang melunjak

gunung akan muntah
ketika kau bertingkah
laut akan meludah
ketika kau berubah

apa kau ingin menghancurkan dunia
dengan tingkamu yang bertingkah
dengan gayamu yang mewah
dengan sifatmu yang serakah

bumi akan aman
jika kau tak ikuti zaman
laut akan tenang
bila kau tak berenang
dengan senang tanpa membimbang

kau sangat tau diriku terikat
tapi tak pernah kau coba merapat
kau mengharapkan manfaat
sampai kau tak pikirkan akibat

rasaku ingin kabur
ingin hasratku tuk melebur
ingin ku tuk keluar
dari tingkahmu yang tak bisa diatur

sungguh ku tak kuat mengangkat bebanmu
yang tak menganggapku
jika tuhan menyuruhku
kutak kan kembali mengenalmu

BANTU AKU MENULIS SURAT CINTA


Bantu aku menulis kata cinta
sunyiku pada pena
Sebingkai meja berwarna coklat
kelu dan berdebu

seakan lautan kata
beku dalam dingin suhu
Sepucuk kertas membentuk perahu
di layarnya teruntuk namamu

Pena itu kembali menggigil
menggoreskan kegelisahan
Aku cinta padamu
Hanya genangan tinta terbentuk seperti teluk

Bantu aku menulis kata cinta
dengan sinar matamu
agar kutemukan nyala
dalam unggun kata

atau jadilah rembulan di rantingranting aksara
mengganti tikaman gelap dengan romantika remang.
Biarkan kuikatkan samar-samar cahayamu
menyatukan sejuta kalimat dalam lembarlembar puisi.

Lalu senyummu kujadikan majas
Agar makna semakin jelas
membebaskan cinta dari pernyataan
yang tak pernah tuntas.

HARAPAN

Sejuknya tiupan angin pagi ini..
Menerpa lamunan ku
terhampar jauh di alam khayalan ku..
Membuat pandangan hati ku semakin kokoh padamu..

Untukmu….
yang akupun tak tahu siapa
kurangkai untaian kata ini…
kunyanyikan lantunan syair indah Qalbu


Untukmu…
yang akupun tidak tahu siapa…
yang masih merupakan misteri besar dalam hidupku…
yang kelak menjadi pelita dalam hidupku…

dengarlah luapan harapanku…
aku berharap…
engkaulah yang bisa mendampingiku..
dalam menjalani hidup…

Dalam tawa ku menyimpan duka.
Dalam senyumku aku menangis.
Dalam diam aku menahan.
Namun sulit untuk tercipta.